Polemik: Kontroversi Dzikir Bersama
(1)
Ketika saya hadir dalam acara dzikir bersama
di masjid Istiqlal Jakarta tgl. 18 Agustus 2003,
banyak telepon dan SMS ke handphone saya, yang
menanyakan, menyesalkan, mengkritik dan mencerca
tindakan saya menghadiri majelis tersebut. Namun
ada pula yang senang dan gembira dengan penampilan
saya di majelis tersebut. Dengan berbagai sorotan
antara pro dan kontra terhadap kehadiran saya
di majelis tersebut, saya merasa perlu untuk
memberi keterangan di majalah yang kita sayangi
ini, berbagai masalah yang mengganjal pikiran
banyak orang. Semoga Allah membukakan hati kita
untuk melihat yang benar itu adalah kebenaran
dan kita diberi kekuatan untuk mengikutinya
dan yang salah itu adalah salah serta kita diberi
kekuatan untuk menjauhinya.
MAJELIS DZIKIR DAN HALAQAH DZIKIR DALAM HADITS-HADITS
NABI SHALLALLAHU `ALAIHI WA ALIHI WASALLAM
Terdapat beberapa hadits-hadits Nabi shallallahu
`alaihi wa alihi wasallam yang memberitakan
keutamaan majelis-majelis dzikir dan halaqah-halaqah
dzikir di sisi Allah Ta`ala. Juga hadits-hadits
tersebut memberitakan adanya halaqah-halaqah
dzikir di kalangan para Shahabat Nabi shallallahu
`alaihi wa alihi wasallam di masa hidupnya Nabi
Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam
. Hadits-hadits itu antara lain adalah sebagai
berikut:
1). Keutamaan majelis dzikir:
Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam
bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai
malaikat yang berputar-putar di jalan-jalan
untuk mencari orang-orang yang berdzikir. Maka
bila mereka mendapati satu kaum yang sedang
berdzikir kepada Allah, maka mereka pun saling
panggil-memanggil dengan menyatakan: Kemarilah
kalian karena di sini ada yang kalian cari.”
Selanjutnya Nabi shallallahu `alaihi wa alihi
wasallam menceritakan: “Maka para Malaikat
itu merendahkan sayap-sayap mereka, demikian
bertumpuk-tumpuk sampai ke langit terdekat (dengan
bumi).”
Kata Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam
: “Maka Tuhan mereka Yang Maha Agung dan
Maha Mulia menanyai mereka --dan Dia lebih tahu
dari mereka--: “Apa yang diucapkan oleh
hamba-hamba-Ku?” Maka para malaikat itu
menjawab: “Mereka bertasbih kepada-Mu
(yakni mengucapkan subhanallah ), dan mereka
bertakbir kepada-Mu (yakni mengucapkan Allahu
akbar ), dan mereka bertahmid kepada-Mu (yakni
mengucapkan alhamdulillah ), dan mereka mengagungkan
Engkau.”
Kemudian Allah menanyai mereka para malaikat
itu: “Apakah mereka yang berdzikir itu
pernah melihat Aku?” Para Malaikat pun
menjawab: “Tidak, demi Allah mereka tidak
pernah melihat Engkau.” Allah menanyakan
lagi: “Bagaimana seandainya mereka melihat
Aku.” Maka para Malaikat pun menyatakan:
“Seandainya mereka melihat Engkau, niscaya
ibadah mereka kepada-Mu akan lebih kuat, dan
mereka akan lebih kuat semangatnya dalam mengagungkan-Mu,
dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu.”
Kemudian Allah menanyai para malaikat itu:
“Maka apakah yang diminta dari-Ku?”
Para malaikat pun menjawab: “Mereka meminta
dari-Mu surga.” Allah bertanya lagi kepada
para Malaikat-Nya: “Apakah mereka pernah
melihatnya?” Dijawab: “Tidak pernah
mereka melihatnya demi Allah wahai Tuhan.”
Selanjutnya Allah bertanya lagi: “Bagaimana
pula kalau mereka pernah melihatnya?”
Dijawab: “Seandainya mereka pernah melihatnya,
niscaya mereka akan lebih besar keinginannya
untuk mendapatkannya, dan lebih kuat semangatnya
untuk memintanya serta lebih semangat untuk
mencapainya.” Allah bertanya lagi: “Dan
apakah yang mereka berlindung daripadanya?”
Para Malaikat itu menjawab: “Mereka memohon
perlindungan kepada-Mu dari api neraka.”
Ditanyakan pula oleh-Nya: “Apakah mereka
pernah melihatnya?” Dijawab: “Tidak,
demi Allah mereka belum pernah melihatnya.”
Kemudian Allah menanyakan lagi: “Bagaimana
pula kalau seandainya mereka pernah melihatnya?”
Dijawab: “Mereka akan lebih kuat semangat
larinya dan akan lebih takut daripadanya.”
Maka Allah menyatakan kepada para Malaikat itu:
“Aku jadikan kalian sebagai saksi, bahwa
Aku mengampuni dosa-dosa mereka.” Maka
berkatalah salah satu dari para Malaikat itu:
“Di majelis dzikir itu ada si fulan yang
sesungguhnya bukan dari mereka yang berdzikir
itu. Dia datang ke majelis itu untuk satu keperluan.”
Allah-pun menjatakan: “Mereka itu adalah
majelis yang tidak akan celaka siapa pun yang
duduk di majelis itu.” (HR. Bukhari dalam
Shahih nya, lihat Fathul Bari juz 11 hal. 208
no hadits 6408 Kitabud Da'awaat bab Fadl-lu
Dzikrillahi `Azza wa Jalla )
2). Halaqah dzikir yang dilakukan oleh para
Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam
dan dipuji oleh beliau shallallahu `alaihi wa
alihi wasallam :
Abu Said Al-Khudri radliyallahu `anhu menceritakan:
Mu'awiyah bin Abi Sufyan pernah keluar dari
rumahnya menuju masjid, dan mendapati di masjid
itu halaqah (posisi duduk segerombol orang dengan
formasi lingkaran). Maka Mu'awiyah menanyai
mereka: “Untuk apa kalian duduk-duduk
di sini?” Mereka pun menjawab: “Kami
duduk untuk berdzikir kepada Allah.” Mua'wiyah
pun mengulang pertanyaannya sembari memastikan:
“Demi Allah kalian tidak duduk di sini
kecuali untuk itu?” Mereka pun menjawab:
“Demi Allah, kami tidak duduk di sini
kecuali untuk itu.” Maka Mu'awiyah menyatakan
kepada mereka: “Tidaklah aku meminta kalian
bersumpah karena aku mencurigai kejujuran kalian.
Dan tidaklah ada seorang pun yang kedudukannya
dekat dengan Nabi yang lebih sedikit dariku
dalam meriwayatkan hadits Nabi. Dan sesungguhnya
Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam pernah
di suatu hari keluar dari kamarnya ke masjid
beliau dan mendapati satu halaqah dari para
Shahabat beliau. Maka beliau pun menanyakan
kepada mereka yang duduk di halaqah itu: ((“Mengapa
kalian duduk di sini?”)) Mereka pun menjawab:
((“Kami duduk di sini adalah untuk berdzikir
kepada Allah dan bertahmid kepada-Nya karena
Dia telah menunjuki kami kepada Islam dan telah
memberi kami kenikmatan dengan agama ini.”)).
Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa
alihi wasallam mengatakan kepada mereka: ((“Demi
Allah kalian tidak duduk di sini kecuali untuk
keperluan itu?”)). Maka merekapun segera
menjawab: ((“Demi Allah kami tidak duduk
di sini kecuali untuk keperluan tersebut.”)).
Setelah mendapat jawaban demikian beliau pun
menyatakan kepada mereka: ((“Ketahuilah,
sesungguhnya aku tidaklah meminta kalian bersumpah
karena aku mencurigai kalian. Akan tetapi, telah
datang kepadaku malaikat Jibril. Dia memberitahukan
kepadaku bahwa Allah Yang Maha Agung dan Maha
Mulia telah berbangga dengan majelis kalian
di hadapan para Malaikat-Nya.” (HR. Muslim
dalam Shahih nya juz 17 hal. 190 Kitab Adz-Dzikir
wad Du'a wat Taubah wal Istighfar , Bab Fadl-lul
Ijtima' `ala Tilawatil Qur'an wa `ala Adz-Dzikri
. Hadits ke 2701/40).
3). Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam
Memerintahkan Kita untuk Duduk di Halaqah-Halaqah
Ddzikir
“Apabila kalian melewati taman-taman
surga, maka hendaklah kalian bersenang-senang
padanya.” Para Shahabat beliau bertanya:
“Wahai Rasulallah, apakah yang engkau
maksud dengan taman-taman surga?” Beliau
pun menjawabnya: “Halaqah-halaqah dzikir.”
(HR. At-Tirmidzi dalam Sunan nya juz 5 hal.
498 Kitabud Da`awat bab Ma Ja`a fi Aqdit Tasbih
bil Yadi no hadits 3510 dari Anas bin Malik
radliyallahu `anhu )
Demikianlah tiga hadits dari sekian banyak
hadits shahih yang menegaskan keutamaan majelis
dzikir dan adanya majelis dan halaqah dzikir
di kalangan para Shahabat Nabi shallallahu `alaihi
wa alihi wasallam . Bahkan Nabi shallallahu
`alaihi wa alihi wasallam memerintahkan untuk
ikut duduk di halaqah dzikir itu.
MAKNA MAJELIS ATAU HALAQAH DZIKIR
Tentang makna majelis dzikir dan halaqah dzikir
yang disebutkan dalam hadits-hadits tersebut
di atas, telah diterangkan oleh Al-Imam Al-Hafidh
Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani rahimahullah
(wafat th. 852 H) dalam Fathul Bari nya jilid
11 hal. 209 sebagai berikut: “Dan yang
dimaksud dengan dzikir di sini ialah membawakan
lafadh-lafadh yang telah diriwayatkan anjuran
untuk melafadhkannya dan memperbanyak mengucapkannya,
seperti lafadh-lafadh yang dinamakan Al-Baqiyatus
Shalihat, yaitu ucapan subhanallah wal hamdulillah
wala ilaha illallah wallahu akbar , dan lafadh-lafadh
yang digabungkan dengannya seperti Al-Hauqalah
(yaitu ucapan La haula wala quwwata illa billah
), Al-Basmalah (yaitu ucapan bismillahir rahmanir
rahim ), Al-Hasbalah (yaitu ucapan hasbunallah
wani'mal wakil ), dan Al-Istighfar (yaitu ucapan
astaghfirullah ) dan semisal itu serta doa meminta
kebaikan dunia dan akherat. Diistilahkan dengan
sebutan dzikir kepada Allah pula bila orang
terus-menerus menjalankan amalan yang diwajibkan
atau disunnahkan, seperti membaca Al-Qur'an
dan membaca hadits, mempelajari ilmu agama,
dan shalat sunnah.”
Kemudian Ibnu Hajar menambahkan di halaman
213:
“Dan dalam hadits ini terdapat keterangan
yang menunjukkan keutamaan dzikir dan keutamaan
orang-orang yang berdzikir. Dan juga menunjukkan
keutamaan berkumpul untuk berdzikir. Diterangkan
pula bahwa orang yang duduk bersama mereka yang
berkumpul dalam rangka berdzikir itu adalah
dianggap termasuk dari orang-orang yang berkumpul
untuk berdzikir dalam segala keutamaan yang
Allah berikan kepada mereka, sebagai kemuliaan
bagi mereka walaupun orang yang duduk di situ
tidak ikut dalam pokok amalan dzikir yang dilakukan
di situ.”
BEBERAPA PENGINGKARAN PARA ULAMA' TERHADAP
MAJELIS DZIKIR DAN HALAQAH DZIKIR
Kita perlu memahami beberapa pengingkaran para
Ulama' terhadap berbagai majelis dzikir yang
ada di zaman beliau-beliau itu. Agar kita mengerti
duduk permasalahan yang sesungguhnya seputar
masalah ini. Untuk itu saya nukilkan berbagai
pengingkaran tersebut sebagai berikut :
1). Al-Imam Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman
bin Al-Fadlel bin Bahram Ad-Darimi rahimahullah
(meninggal pada th. 255 H) dalam Sunan nya membawakan
sebuah riwayat pengingkaran Shahabat Nabi shallallahu
`alaihi wa alihi wasallam bernama Abdullah bin
Mas'ud radliyallahu `anhu terhadap halaqah-halaqah
dzikir yang ada di jaman beliau. Riwayat tersebut
adalah sebagai berikut:
“Telah menceritakan kepada kami Al-Hakam
bin Al-Mubarak, dia mengatakan: Telah menceritakan
kepada kami Umar bin Yahya, dia mengatakan:
Aku telah mendengar ayahku yang menceritakan
apa yang didengarnya dari ayahnya, dia menyatakan:
Kami sedang duduk di depan pintu rumah Abdullah
bin Mas'ud menjelang shalat subuh. Kebiasaannya
bila beliau keluar dari rumahnya, kami pun berjalan
bersamanya ke masjid untuk shalat berjama'ah
di sana. Di saat kami sedang menunggu Abdullah
bin Mas'ud keluar dari rumahnya, tiba-tiba datanglah
Abu Musa Al-Asy'ari dan beliau bertanya kepada
kami: “Apakah Abu Abdurrahman telah keluar
menemui kalian?” Kami pun menjawab: “Belum.”
Maka Abu Musa akhirnya duduk bersama kami di
depan pintu rumah Abdullah bin Mas'ud sampai
beliau keluar dari rumah untuk menuju masjid.
Ketika beliau keluar, kami semua berdiri menyambutnya.
Maka Abu Musa pun menyatakan kepadanya: “Wahai
Aba Abdirrahman, aku barusan melihat di masjid
suatu kejadian yang engkau ingkari, akan tetapi
aku tidak melihatnya alhamdulillah kecuali kebaikan.”
Maka beliau pun bertanya: “Apakah kejadian
yang engkau maksudkan?” Abu Musa menjawab:
“Bila engkau sampai di masjid engkau akan
melihatnya. Aku melihat di sana ada sekelompok
orang yang duduk berhalaqah-halaqah untuk menanti
shalat. Pada setiap halaqah itu ada seorang
pria yang memimpin mereka dan di tangan mereka
ada batu kerikil. Pimpinan mereka berkata: ((“Bertakbirlah
seratus kali.”)). Maka mereka pun bertakbir
seratus kali. Kemudian pimpinan mereka menyatakan:
((“Bertahlillah seratus kali!”)),
maka mereka pun bertahlil seratus kali. Selanjutnya
pimpinan mereka menyatakan: ((“Bertasbihlah
seratus kali!”)), maka mereka pun bertasbih
seratus kali.” Abdullah bin Mas'ud kemudian
menyatakan kepada Abu Musa: “Lalu apa
yang engkau katakan kepada mereka?” Abu
Musa menjawab: “Aku tidak berkata apapun
kepada mereka, karena aku menanti pendapatmu
dan perintahmu.” Ibnu Mas'ud mengatakan:
“Tidakkah sebaiknya engkau perintahkan
kepada mereka untuk menghitung kejelekan-kejelekan
mereka dan engkau katakan kepada mereka bahwa
kebaikan mereka itu sesungguhnya terjamin dan
tidak akan disia-siakan.” Kemudian Abdullah
bin Mas'ud berjalan menuju masjid dan kami pun
berjalan bersamanya. Ketika beliau masuk masjid
dan mendatangi satu halaqah dari halaqah mereka
itu, beliau pun berdiri di hadapan mereka sembari
beliau menyatakan kepada mereka: “Perbuatan
apa ini yang aku lihat sedang kalian lakukan?”
Maka mereka pun menjawab: “Wahai Aba Abdir
Rahman, ini adalah kerikil yang kami pakai untuk
menghitung takbir, tahlil dan tasbih kami.”
Maka Abdullah bin Mas'ud menyatakan kepada mereka:
“Hendaklah kalian menghitung kejelekan-kejelekan
kalian, karena kita menjamin bahwa kebaikan-kebaikan
kalian tidak akan hilang sia-sia sedikit pun.
Celaka kalian wahai Ummat Muhammad, betapa cepatnya
kebinasaan kalian. Para Shahabat Nabi kalian
masih ada dan baju Nabi masih belum rusak dan
bejana-bejana peninggalan beliau masih belum
pecah. Demi yang diriku ada ditangan-Nya, sesungguhnya
kalian dalam keadaan salah satu dari dua kemungkinan,
apakah kalian dalam keadaan lebih baik dari
agama yang diajarkan oleh Muhammad shallallahu
`alaihi wa wasallam (dan yang demikian itu tidak
mungkin terjadi, pent), atau kalian sedang membuka
pintu kesesatan.” Mereka yang duduk di
halaqah tersebut menyatakan kepada Abdullah
bin Mas'ud: “Demi Allah, kami tidak menginginkan
kecuali kebaikan wahai Aba Abdirrahman.”
Maka beliau pun menyatakan: “Betapa banyaknya
orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak
bisa mencapainya selama-lamanya. Sesungguhnya
Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam
telah menceritakan kepada kami bahwa akan adanya
kaum yang membaca Al-Qur'an tetapi bacaannya
tidak melampaui kerongkongan mereka. Demi Allah,
saya tidak tahu barangkali mayoritas mereka
itu adalah kalian.” Kemudian Abdullah
bin Mas'ud berpaling dari mereka setelah menasehati
mereka.
Amer bin Salamah berkata: “Kami melihat
setelah itu bahwa mayoritas orang-orang yang
duduk-duduk di halaqah-halaqah itu adalah orang-orang
dari kalangan Khawarij yang memerangi kami di
peperangan Nahrawan.” Demikian riwayat
ini dibawakan oleh Al-Imam Ad-Darimi dalam Sunan
nya jilid 1 hal. 68 – 69.
Riwayat ini menegaskan pengingkaran Abdullah
bin Mas'ud terhadap cara berdzikir yang ada
di halaqah tersebut. Yaitu menghitung dzikir
dengan batu yang dinilai oleh beliau sebagai
amalan bid'ah, dan bukan pengingkaran terhadap
dzikir bersama yang dilakukan padanya.
2). Al-Hafidh Al-Imam Jamaluddin Abil Faraj
Abdurrahman bin Al-Jauzi Al-Baghdadi rahimahullah
(wafat th. 597 H) menerangkan dalam kitab beliau
Talbis Iblis halaman 393 sebagai berikut:
“Dan iblis sungguh telah menipu sebagian
besar orang awam yang hadir di majelis-majelis
dzikir. Mereka ikut menangis di dalamnya dan
mereka menganggap bahwa hanya dengan begitu
telah cukup dalam mencapai keutamaan majelis
dzikir. Seandainyalah mereka tahu bahwa yang
dituju dengan menghadiri majelis dzikir itu
ialah untuk beramal dengan ilmu yang diterangkan
padanya. Bila seseorang tidak beramal dengan
ilmu yang dia dengar, maka apa yang didengarnya
itu akan menjadi saksi yang memberatkannya di
hari kiamat. Dan sungguh aku mengetahui adanya
sekelompok orang yang menghadiri majelis-majelis
dzikir sejak bertahun-tahun dan mereka menangis
padanya dan mereka menghadirinya dengan penuh
kekhusyu'an. Tetapi tak seorang pun dari mereka
ini berubah dari kebiasaan yang biasa mereka
perbuat yaitu perbuatan riba, menipu dalam berjual
beli serta tidak berubah pula kejahilannya tentang
rukun-rukun shalat. Juga tidak berubah dari
kebiasaan ber ghibah (menggunjing) terhadap
kaum Muslimin dan durhaka kepada kedua orang
tua. Mereka yang demikian keadaannya itu telah
ditipu oleh iblis dengan menampakkan kepada
mereka bahwa menghadiri semata majelis dzikir
itu dan menangis padanya akan menghapuskan dosa-dosanya.
Aku berpandangan, seandainyalah mereka menghadiri
majelis-majelisnya para Ulama' dan orang-orang
shalih, niscaya ia akan menggugurkan dosa-dosa
mereka. Sebagian orang-orang yang hadir di majelis
dzikir itu disibukkan dengan berangan-angan
dalam keharusan bertaubat dari kemaksiyatan
kepada Allah sehingga mereka tertunda-tunda
untuk bertaubat dari dosa mereka. Sebagiannya
lagi, adanya orang-orang yang menghadiri majelis
dzikir itu untuk sekedar senang mendengar ungkapan
yang ada padanya tetapi mereka terus-menerus
saja mengabaikan keharusan beramal.”
Maka yang dikecam oleh Ibnul Jauzi disini adalah
orang-orang yang tidak mendapatkan manfaat apa-apa
dari majelis dzikir itu. Tidak mendapatkan tambahan
ilmu dan tidak pula mendapatkan tambahan amal.
Jadi bukanlah beliau mengecam majelis dzikir
tersebut, tetapi yang dikecamnya adalah orang-orang
yang hadir padanya tetapi tidak berubah ilmu
dan amalnya kepada kebaikan.
3). Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim bin
Abdus Salam bin Taimiyah rahimahullah (wafat
th. 728 H) menerangkan berbagai kemungkaran
yang terjadi pada majelis-majelis dzikir sebagai
berikut:
“Adapun dzikir dengan menyebut nama Allah
semata, baik penyebutan namanya secara langsung
(yaitu seperti menyebut lafadh Allah, Allah,
Allah, Allah…., pent) ataukah dengan menyebut
dlamir nya (yaitu lafadh pengganti seperti menyebut
lafadh Hua, Hua, Hua, Hua yang artinya ialah
Dia, Dia, Dia, Dia…., pent) adalah perbuatan
bid'ah dalam Syariat ini. Juga secara bahasa
dan perkataan Arab, kalimat tersebut salah.
Karena nama tunggal (yakni penyebutan nama semata
tanpa digandengkan dengan kata yang lainnya,
pent) bukanlah ia sebagai kalimat pernyataan
iman dan bukan pula kalimat pernyataan kufur.”
Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyah jilid 10 halaman
398.
Syeikhul Islam banyak membahas majelis yang
sering dinamakan Majelis As-Sima' atau terkenal
juga dengan majelis yang padanya dibacakan ayat-ayat
Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi shallallahu
`alaihi wa alihi wasallam serta bait-bait syair
yang dinyanyikan dengan irama-irama tertentu.
Beliau mengingatkan adanya kemungkaran dalam
majelis-majelis demikian, seperti penabuhan
gendang dan alat-alat musik lainnya, bertepuk-tepuk
tangan, bersiul-siul, dan berteriak-teriak dalam
berdzikir kepada Allah. Juga dzikir yang mengandung
lafadh tawassul yang syirik serta bid'ah. Semua
hal tersebut adalah perkara-perkara yang diingkari
oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah. (lihat
Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyah jilid 10 dan 11).
Semua pengingkaran para Ulama' sebagaimana tersebut,
telah saya pelajari dan ketika semua itu saya
teliti pada majelis dzikir yang dipandu oleh
saudara Muhammad Arifin Ilham, hal-hal kemungkaran
tersebut tidak saya dapati dan bila kadang-kadang
terdapat pada sebagian yang hadir, maka pemandu
segera menegurnya dan melarangnya. Ini yang
saya saksikan pada mereka. Adapun berkenaan
dengan dzikir yang disuarakan bersama dan dikomandoi
dengan satu komando, hal ini ada catatan tersendiri
berkenaan pengingkaran kepadanya oleh Al-Imam
As-Syathibi rahimahullah untuk kita telaah secara
ilmiah. ( B E R S A M B U N G)
.
Al Ustadz Ja'far
Umar Thalib