Karakteristik Imam Disiplin dan Indisipliner
Perjuangan adalah satu kemestian dalam perjalanan hidup di dunia. Apakah dalam kebaikan ataukah dalam kejelekan. Karena hidup di dunia adalah dalam keaneka ragaman pergolakan dan jatuh bangun antara kalah dan menang. Perjuangan dalam kebaikan, adalah jalan perjuangan orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Sedangkan perjuangan dalam kejelekan adalah perjuangan orang-orang yang sedang menentang Allah dan RasulNya. Dua model perjuangan ini telah diberitakan oleh Allah Ta'ala dalam firmanNya di S. An Nisa' 76 :
“Orang-orang yang beriman itu berperang di jalan Allah, sedangkan orang-orang kafir, mereka berperang di jalan thaghut (yakni jalan para setan). Oleh karena itu, perangilah para pengikut setan. Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah”.
Jatuh bangunnya perjuangan antara kalah dan menang, telah diberitakan oleh Allah Ta'ala dalam firmanNya di S. Al Imran 140 :
“Bila kalian terluka dalam perjuangan kalian, maka sesungguhnya kaum yang sedang memerangi kalian juga terluka seperti yang kalian derita. Demikianlah hari-hari kemenangan dan kekalahan Kami gilirkan diantara manusia. Agar Allah melihat siapa yang sesungguhnya beriman dan agar Ia memilih dari kalian orang-orang yang terbunuh sebagai syahid. Dan Allah itu tidak menyenangi orang-orang yang berbuat dzalim”.
Begitulah cerita hidup didunia ini. Penuh kisah perjuangan dan pergolakan yang diliputi oleh pahit getirnya perjalanan perjuangan itu. Jalannya dibasahi oleh air mata, keringat dan cucuran darah pengorbanan. Di sana akan beradu nasib, antara orang yang beruntung dan orang yang celaka.
Siapakah Yang Dikategorikan Sebagai Tokoh ?
Ketokohan itu juga ada yang dalam kebaikan dan ada pula yang dalam kejelekan. Dan tokoh itu maknanya adalah kepeloporan orang tersebut dalam suatu perkara, apakah dalam kebaikan ataupun dalam kejelekan. Di dalam Al Qur'an, tokoh dalam kebaikan dan kejelekan itu dinamakan “Imam” atau bentuk jamaknya adalah “Aimmah” . Hal ini sebagaimana diberitakan oleh Allah Ta'ala dalam firmanNya sebagai berikut :
“Dan Kami jadikan dari mereka itu para Imam yang membimbing orang dengan perintah Kami, ketika mereka tetap sabar dalam menjalankan kebenaran dan mereka amat kuat keyakinannya dengan ayat-ayat Kami”. S. As Sajdah 24.
Dalam ayat ini ditegaskan bahwa kepribadian Imam dalam kebaikan itu harus mempunyai dua kekuatan; yaitu :
1. Kekuatan ilmu agama, sehingga membimbing manusia kepada agama Allah dengan dalil-dalil yang jelas dan tidak ada keraguan sedikitpun.
2. Kekuatan kesabaran dalam beristiqamah di atas kebenaran, sehingga membimbing manusia kepada kesabaran tersebut.
Adapun Imam dalam kejelekan itu telah diberitakan oleh Allah Ta'ala dalam firmanNya sebagai berikut :
“Maka bila mereka melanggar perjanjian yang telah mereka bikin dengan kalian dan mencerca agama kalian, maka perangilah para imam dari kalangan orang-orang kafir itu. Karena mereka itu tidak bisa dipercaya dalam berpegang dengan perjanjian. Semoga dengan kalian memerangi mereka itu, mereka akan berhenti dari pengkhianatan mereka”. S. At Taubah 12.
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa kepribadian imam dalam kejelekan itu mempunyai dua kelemahan; yaitu :
- Suka berkhianat terhadap perjanjian yang telah dibikin, sehingga tidak ada yang merasa aman dengannya setiap membikin perjanjian.
- Suka memperolok-olok agama Allah dan merendahkannya, sehingga tidak bisa diajak bicara apalagi dinasehati dengan agama Allah.
Maka imam dalam kebaikan itu hanya akan dapat ditundukkan dengan nasehat-nasehat dari agama Allah Ta'ala, yaitu dalil-dalil dari Al Qur'an dan As Sunnah. Sedangkan imam dalam kejelekan itu hanya akan dapat ditundukkan dengan kekuatan fisik, sehingga dapat menghentikan kejahatannya.
Allah Ta'ala menampilkan imam dalam kebaikan, yaitu Nabi Ibrahim alaihis salam lengkap dengan kepribadiannya yang agung. Hal ini telah diterangkan dalam Al Qur'an S. An Nahel 120 – 123, sebagai berikut ini :
“Sesungguhnya Ibrohim itu adalah imam yang tunduk kepada agama Allah, dia bersikap hanif di atas kebenaran dan dia tidak sama sekali masuk dalam golongan orang-orang yang berbuat syirik. Dia selalu bersyukur kepada nikmat Allah. Dia telah dipilih oleh Allah sebagai kekasihNya dan diberi petunjuk. Dan Kami memberinya kebaikan di dunia dan di akherat dan dia termasuk orang-orang yang shaleh”.
Dalam ayat ini Allah Ta'ala memberitakan tentang sosok imam dalam kebaikan yang sempurna pada hambaNya yang bernama Ibrahim alaihis salam . Ada sembilan keutamaan pada diri Nabiullah Ibrahim alaihis salam. Yaitu sebagai berikut :
1. Al Ummah, yakni imam, yakni terkumpul padanya segenap kebaikan yang pantas diteladani, dan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengajarkannya.
2. Al Qunut, yakni ta'at kepada Allah Ta'ala dalam menjalankan agamaNya dan ikhlas hanya untukNya dalam menjalankan semua itu.
3. Al Hanif, yakni komitmen sepenuhnya dengan agama Allah dengan penuh kecintaan kepadanya, dan terus-menerus bertaubat kepadaNya, serta berpaling dari agama apapun yang selainnya.
4. Al Bara'ah Minal Musyrikin , yakni anti pati terhadap perbuatan syirik dan terhadap orang-orang yang melakukan syirik serta bersih dari perbuatan syirik.
5. Asy Syukur lillah , yakni selalu syukur kepada Allah atas nikmat-nikmatNya yang telah dilimpahkan kepadanya baik kenikmatan dhahir maupun kenikmatan batin.
6. Al Mujtaba'indallah , yakni dipilih oleh Allah Ta'ala sebagai kekasihNya yang khusus (yakni sebagai khalilullah ) dan dijadikan olehNya sebagai makhluq pilihanNya dan sebaik-baik hambaNya yang selalu mendekatkan diri kepadaNya.
7. Al Mahdi ila shiratil mustaqim, yakni selalu ditunjuki oleh Allah ke jalan yang lurus dalam ilmunya dan amalnya. Sehingga dia beramal dengan kebenaran dan mengutamakannya atas yang lainnya.
8. Hasanatud dunya , yakni mendapat kebaikan dunia, yaitu mendapatkan rizki yang lapang, istri-istrinya yang cantik, dan anak keturunan yang shaleh dan shalehah, serta akhlaq yang mulya.
9. Hasanatul akhirah , yakni mendapatkan kedudukan yang mulya di akherat di sisi Allah Ta'ala.
(Lihat Taisir Al Karimir Rahman Fi Tafsiri Kalamil Mannan, Syeikh Abdurrahman As Sa'di jilid 4 halaman 252 – 253).
Allah Ta'ala menampilkan pula dalam Al Qur'an, sosok imam dalam kejelekan, yaitu Fir'aun. Allah memberitakan tentangnya dalam firmanNya berikut ini :
“Maka dia dengan segenap tentaranya bersikap congkak di muka bumi dengan cara yang tidak benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Kami sambar dia dan segenap tentaranya dan Kami tenggelamkan mereka di laut. Lihatlah oleh kalian, bagaimana akibat perbuatan orang-orang yang dzalim. Dan Kami jadikan mereka sebagai para imam yang menyeru manusia masuk ke neraka, dan di hari kiamat mereka tidak diberi pertolongan oleh Allah. Dan Kami selalu meliputi mereka di dunia ini dengan kutukan Kami, dan di hari kiamat mereka akan dikelompokkan kepada golongan orang-orang yang terhina”. S. Al Qashas 39 – 42.
Di ayat ini Allah Ta'ala menerangkan keadaan Fir'aun sebagai sosok imam dalam kejelekan, bila disimpulkan adalah sebagai berikut :
1. Mutakabbir, yakni congkak dengan menolak kebenaran dan menghinakan sesama manusia.
2. Munkirul ba'ts, yakni mengingkari hari kebangkitan kembali manusia dari kuburnya atau hari kiamat.
3. Dzalimun lin nafsi wa lighairihi , yakni dzalim terhadap dirinya dan terhadap rakyatnya, dan juga dzalim terhadap hak Allah untuk diibadahi dan dita'ati, dengan berbuat kekafiran kepadaNya dan kemusyrikan serta kemaksiyatan.
4. Qaidun ilannar , yakni memimpin manusia kepada amalan yang mengantarkan mereka ke neraka Allah.
5. Mal'unun fi harakaatihi , yakni gerakan perjuangannya di dunia selalu diliputi oleh kutukan Allah dengan dijauhkan dari rahmatNya dan tidak diberkahi olehNya. Sehingga gerakan yang demikian akan selalu berakhir dengan kehancuran dan kebinasaan.
6. Minal maqbuhin, yakni semua pihak yang terlibat dengan gerakan semacam ini, di akherat kelak akan dihinakan oleh Allah di hadapan segenap makhluq di padang mahsyar.
Demikianlah kedua sosok imam, masing-masing dalam kebaikan maupun dalam kejelekan. Nabiullah Ibrahih alaihis salam sebagai Imamul Hunafa' ( imam bagi orang-orang yang hanif ). Dan aduwwullah (musuh Allah) Fir'aun la'natullah alaihi sebagai Imamul Maqbuhin ( imam bagi orang-orang yang hina). Dengan demikian yang dinamakan tokoh itu ialah pelopor bagi orang banyak dalam kebaikan maupun dalam kejelekan. Setiap tokoh selalu berfungsi sebagai qudwah atau panutan bagi orang banyak dalam perkara kebaikan maupun dalam perkara kejelekan. Juga setiap tokoh berperan sebagai pemimpin paling depan dan pembimbing bila dari belakang kepada jalan kebaikan maupun jalan kejelekan. Kedua model ketokohan itu mempunyai konsekwensi masing-masing di hadapan Allah, sebagaimana hal ini telah diterangkan oleh Rasullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam dalam sabdanya sebagai berikut :
“Barang siapa mempelopori amalan baik, maka dia mendapat pahala amalan baik itu dan juga pahala setiap orang yang mengikuti amalan baik itu. Dan barangsiapa mempelopori amalan yang jelek, maka dia mendapat dosa perbuatan jelek itu dan dosa setiap orang yang mengikutinya dalam kejelekan itu”.
Dalam uraian berikut ini, yang kita bahas adalah keteladanan para tokoh-tokoh dalam kebaikan atau para Aimmatul Huda . Karena yang kita butuhkan dalam hidup didunia ini adalah keteladanan dalam beriman kepada Allah Ta'ala dan RasulNya serta keteladanan dalam beristiqomah di atas jalan hidup yang diridhoi oleh Allah Ta'ala.
Al Ustadz Ja'far Umar Thalib