:: Hikmah Dakwah Salafiyah
Admin 07 Maret 2009
Artikel ini juga dimuat dalam majalah GATRA edisi 5 Maret 2009 rubrik kolom
Akhir-akhir ini di media elektronik ramai diberitakan tentang peristiwa penyerangan masyarakat Muslimin terhadap apa yang dinamakan pengikut aliran Salafi. Beberapa stasiun televisi mengesankan bahwa apa yang dinamakan Salafi itu adalah salah satu aliran sesat yang berkembang di masyarakat Muslimin di Indonesia. Berita dan sekaligus vonis yang demikian ini sangat menyakitkan hati kami para Salafiyyin (para pengikut aliran Salafi) dan tentu menimbulkan keprihatinan yang mendalam. Ini adalah pencitraan yang dzalim terhadap Da'wah Salafiyah. Saya sebagai salah satu pengikut aliran Salafi, melalui tulisan ini, hendak mengajak segenap pembaca untuk bersikap adil dalam memahami peristiwa di Lombok NTB itu dan kiranya tulisan ini dapat memberikan pencerahan bagi para pemerhati Da'wah Salafiyah di Indonesia.
Da'wah Salafiyah itu ialah perjuangan kaum Muslimin untuk mengajak Ummat Islam memahami serta mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan yang dipahami dan diamalkan oleh para Salafus Shalih. Sedangkan Salafus Shalih itu secara bahasa artinya ialah pendahulu kita yang Shalih. Dan yang dimaksud di sini ialah para Shahabat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam, atau dengan kata lain ialah para murid-murid beliau yang belajar agama langsung dari beliau di masa beliau masih hidup di dunia ini, serta beriman kepada beliau dan mati di atas iman. Kemudian juga yang masuk dalam katagori Salafus Shalih ialah generasi Tabi'in, yaitu generasi Ummat Islam yang belajar agama dari para Shahabat Nabi serta mati dalam keadaan mengimani pelajaran yang diterimanya. Selanjutnya generasi yang yang masuk dalam katagori Salafus Shalih ini ialah generasi Tabi'it Tabiin, yaitu generasi Ummat Islam yang belajar agama dari para murid Shahabat Nabi serta mati dalam keadaan mengimani pelajaran yang diterimanya. Kepada tiga generasi inilah (Shahabat,Tabi'in dan Tabi'it Tabi'in) dirujukkan segala pemahaman agama Islam, sebagai pemahaman standar yang sah dan dijamin kebenarannya oleh Allah Ta'ala dan oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Kita dapati didalam Al Qur'an firman Allah Ta'ala yang artinya :
"Dan orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin (yaitu orang-orang Islam di masa Nabi masih hidup di dunia ini yang pindah dari Makkah ke Madinah sebelum pembebasan kota Makkah) dan Anshar (yaitu orang-orang Islam di masa Nabi masih hidup di dunia ini yang tinggal di kota Madinah sebelum kedatangan Muhajirin) dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan cara yang baik, maka Allah ridho kepada mereka dan mereka akan ridho kepada balasan pahala dari Allah. Dan Allah siapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya berbagai jenis sungai. Mereka tinggal padanya dengan kekal selama-lamanya. Yang demikian itu adalah keberhasilan yang besar". S. At Taubah 100.
Ayat ini jelas memuat ketegasan dari Allah Ta'ala yang menyatakan keridhoanNYA kepada pemahaman dan pengamalan Islam dari para Shahabat Nabi dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan cara yang terbaik. Maka tentu yang mengikuti jejak para Shahabat itu dengan cara yang terbaik, adalah para Tabi'in dan Tabi'it Tabi'in. Hal ini karena adanya ketegasan dari sabda Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam yang artinya : "Sebaik-baik ummatku, ialah yang segenerasi denganku (yakni Shahabat beliau). Kemudian generasi sesudahnya (yakni Tabi'in), kemudian generasi sesudahnya (yakni Tabi'it Tabi'in)". HR. Bukhari dalam Shahihnya.
Kemudian generasi-generasi sesudahnya dari para Ulama' Ahli Hadits mengikuti jejak para Shahabat Nabi dengan benar dan baik, maka mereka dikatagorikan juga sebagai Salafus Shalih. Seperti Imam Maliki (Malik Anas Al Asbahi), Imam Syafi'i (Muhammad bin Idris As Syafi'i Al Mutthalibi), Imam Hanbali (Ahmad bin Hanbal Adz Dzuhli As Syaibani) dan lain-lainnya. Juga para Fuqaha yang mengikuti jejak para Shahabat Nabi dengan baik, dikatagorikan pula sebagai Salafus Shalih. Seperti Al Imam Hanafi (Nu'man bin Tsabit), Al Imam An Nawawi (Yahya bin Syaraf An Nawawi), dan lain-lainnya. Demikian pula Ahli Tasawwuf yang mengikuti jejak para Shahabat Nabi itu dengan cara yang terbaik, juga dikatagorikan sebagai Salafus Shalih. Seperti Al Imam Al Ghazali (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghazali), Al Imam Sahal bin Abdullah At Tusturi, Al Imam Junaid Al Baghdadi (Junaid bin Muhammad bin Al junaid), Al Imam Abul Hasan Al Asy'ari (Ali bin Ismail Al Asy'ari), Syaikh Al Allamah Abdul Qadir Al Jailani dan lain-lainnya.
Dengan demikian maka jalan yang paling aman dari kesesatan dalam memahami Islam, adalah mengikuti pemahaman serta teladan para Salafus Shalih dalam beriman dan berislam. Namun dalam mengikuti pemahaman mereka, ada problem yang krusial bagi orang yang belum memahami pemahaman tersebut. Sementara mayoritas Ummat Islam di dunia belum mengenal dengan baik pemahaman ini. Problem yang krusial tersebut adalah tentang prinsip agama dalam pemahaman ini yang menyatakan bahwa semua orang mungkin salah dalam memahami agama ini. Yang tidak bisa salah hanyalah Al Qur'an dan Al Hadis yang shahih. Maka semua orang bisa saja dikritik dan pemahamannya dikoreksi oleh dalil agama yang hanya diambil dari Al Qur'an dan Al Hadits. Kritik terhadap pemahaman agama ini akan menjadi masalah besar bagi keumuman Ummat Islam, kalau kritik itu menyangkut para Ulama' besar setingkat Imam Syafi'i atau Imam Abul Hasan Al Asy'ari, atau syaikh Al Allamah Abdul Qadir Al Jailani, atau Imam As Suyuti rahimahumullah. Bahkan bisa jadi kritik itu dianggap sebagai tindakan penghinaan terhadap para Ulama'. Sehingga ummatpun jadi marah besar dan inilah persimpangan jalan bagi Da'wah Salafiyah.
Perjuangan Da'wah Salafiyah akan menyimpang dari misi semula ketika tidak menggunakan Hikmah Da'wah Salafiyah. Bahkan Da'wah Salafiyah akan menjadi ajang kebencian kaum Muslimin ketika para penganjurnya mengabaikan hikmah. Inilah yang diperingatkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu : "Bebicaralah kalian di hadapan manusia sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka tentang agama ini. Bila kalian berbicara dengan mereka tanpa mempertimbangkan tingkat pengetahuan mereka, maka apakah kalian senang bila banyak orang mendustakan Allah dan RasulNya ?". Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahihnya. Dan ini pula yang diperingatkan oleh Sayyidina Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu :"Bila anda berbicara dengan orang-orang tentang agama ini, namun pembicaraan anda itu tidak sesuai dengan tingkat intelektual orang-orang tersebut, maka omongan kalian itu akan menjadi fitnah bagi mereka". Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya.
Maka Hikmah Da'wah Salafiyah itu harus mempertimbangkan tingkat pemahaman masyarakatnya sebelum memilih topik materi Da'wah yang dia sampaikan kepada mereka. Agar masyarakat dapat diajak kepada kebenaran pemahaman Salafus Shalih dengan tahapan yang benar dan terhindar dari fitnah kesalah pahaman mereka.
Hal inilah rupanya yang diabaikan oleh segelintir penganjur kepada pemahaman Salafus Shalih di Lombok dan beberapa tempat lainnya di Indonesia. Akhirnya da'wahnya menjadi pemicu amuk masa. Dan kemudian media yang meliput peristiwa itu memvonis bahwa aliran Salafi itu adalah alirat sesat. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
Al-Ustadz Ja'far Umar Thalib