Bismillahirrahmanirrahim!
Semoga dengan kehadiran website alghuroba
ini menjadi sebab kebaikan bagi kita semua, selamat membaca.
Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah
Akhlaqul Karimah
Bimbingan Ibadah Syar'iyah
Biografi Ulama Ahli Hadits
Metodologi Salaf
Nasihat Untuk Muslimah
Tafsir Al-Qur'an dan Al-Hadits
Bimbingan Kesehatan
Berkenalan Dengan Manhaj Salaf
Kesimpangsiuran yang terjadi pada sebagian orang yang mengaku bermanhaj "Salaf" yang sesungguhnya pemahamannya telah terkontaminasi..
Baca Tuntas
 
Fenomena "Jama'ah Islamiyah"
"Jama'ah Islamiyah" bukan sekedar wacana (menampik persepsi Barat mengenai kelompok "Jama'ah Islamiyah")
Baca Tuntas
 
Muhibah Al-Ustadz Ja'far Umar Thalib
Pasang surut dakwah Salafiyah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah di Indonesia telah berlangsung sejak zaman Imam Bonjol di Sumatra Barat atau bahkan sebelumnya sampai sekarang
Baca Selengkapnya
 

print
:: Pengobatan Islami
Admin  18 Februari 2009

Jika ada seorang muslim sakit parah,sudah berobat melalui medis tapi hasilnya nol dan dan pihak medis (rumah sakit) sudah tidak mampu lagi mengobati,kemudian dia pergi ke seorang ustadz yang dikenal mampu mengobati berbagai penyakit, ustadz ini mampu mengobati seseorang dari jarak jauh tanpa menghadirkan orang yang akan diobati.

Apakah Islam membolehkan pengobatan dengan cara demikian?Bagaimana menyikapi hal ini?apakah ini bisa temasuk dalam kaidah fiqhiyah "Addhorurotu tubihul mahdhurot" mengingat dari jalan medis sudah ndak ada harapan lagi? Jika dibolehkan menurut syariat mohon dalilnya,jika ada larangan mohon dalilnya?
atas jawaban ustadz kami ucapkan jazakumullah...

Gunawanaja
Jogokaryan Yogyakarta

Jawab :

Pengobatan menurut tuntunan syari’ah Islamiyah haruslah dipastikan bahwa bahan-bahan obat yang digunakan benar-benar dari bahan yang halal dan tidak boleh samar-samar antara halal dan haram. Kemudian cara pengobatannya pun juga harus dipastikan tidak melanggar tuntunan syari’ah. Kalaupun pengobatannya itu dalam bentuk bacaan, maka bacaannya harus dipastikan sebagai bacaan yang benar dan tidak mengandung lafadz syirik.

Para shahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum melarang untuk melakukan pengobatan dengan bacaan yang tidak jelas huruf-hurufnya atau lafadznya. Apalagi kalau cara pengobatan itu tidak jelas dan tidak bisa di mengerti, tentu tidak boleh seorang muslim berobat dengan cara demikian. Karena sangat dikuatirkan untuk terjatuh dalam perbuatan syirik. Maka pengobatan dari jarak jauh itu adalah salah satu bentuk-bentuk pengobatan yang caranya tidak jelas dan sangat rentan untuk terjatuh kepada perbuatan syirik.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa 'ala aalihi wasallam bersabda :

“Setiap penyakit ada obatnya, maka berobatlah kalian dengan cara yang halal dan janganlah kalian berobat dengan cara yang haram”. (HR. Bukhari)

Dalam perkara ini tidak termasuk darurat, karena telah dipastikan oleh Rasulullaah Shallallahu 'alaihi wa 'ala aalihi wa sallam bahwa setiap penyakit itu ada obatnya; yang halal. Sedangkan perkara darurat itu ialah perkara yang genting dan tidak diketahui jalan keluarnya kecuali dengan jalan yang haram. Wallahu a'lam.

Tanya :
Saya sering mendapat cerita di kampung bahwa orang itu bisa melakukan kontak batin dengan orang lain walaupun tempatnya berjauhan. Seperti dia pernah menyatakan bahwa dia biasa ketemu orang di Mekah, padahal orang tersebut ada di kampungnya sendiri di Indonesia. Bagaimana pandangan Islam tentang hal ini, apakah yang demikian itu memang bisa terjadi pada seseorang ?

Nur Wahidah di bumi Allah.

Jawab :
Segala keanehan pada seseorang itu sebabnya bisa jadi karena ketha’atan orang itu kepada Allah dan RasulNya, atau bisa jadi pula karena ketha’atannya kepada syaithan. Bila keanehan pada seseorang itu muncul karena ketha’atannya menjalankan Kitabullah (Al Qur’an) dan Sunnah RasulNya (Al Hadits), maka keanehan itu dinamakan Karomah sebagai anugerah dari Allah Ta’ala. Tetapi bila berbagai keanehan pada seseorang itu muncul dalam keadaan orang tersebut tenggelam dalam berbagai amalan bid’ah, syirik, dan berbagai bentuk amalan kema’siatan kepada Allah, maka semua keanehan itu dinamakan sihir karena dibantu oleh syaithan. Hal ini telah dinyatakan oleh Allah Ta’ala dan RasulNya dalam Al Qur’an dan Al Hadits sebagai berikut :

“Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah itu adalah mereka yang tidak dijangkiti oleh rasa takut dan tidak pula diganggu oleh rasa sedih. Yaitu mereka yang beriman dan bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dunia dan di akherat. Tidak akan ada perubahan pada ketentuan Allah. Yang demikian itu adalah keberhasilan yang besar”. (S. Yunus 62 – 64)

Al Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir At Thabari rahimahullah meriwayatkan dalam tafsir beliau sebuah hadits Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam yang menyatakan :

“Sesungguhnya dari hamba-hamba Allah, ada orang-orang yang para Nabi dan para Syuhada’ (yakni orang-orang yang terbunuh dalam membela agama Allah – pent)”. Para Shahabat beliau bertanya : “Siapakah mereka wahai Rasulullah, barang kali kami bila mengenal mereka, kami akan mencintai mereka ?”. Maka Rasulullahpun menjawab : “Mereka itu adalah kaum yang saling menyinta di jalan Allah bukan karena harta dan bukan pula karena nasab turunan. Wajah mereka dari cahaya dan mereka ditempatkan di atas panggung yang diciptakan dari cahaya. Mereka itu tidak merasa takut ketika keumuman orang takut dan mereka tidak bersedih ketika keumuman orang bersedih” , kemudian beliau membacakan (ayat 62 – 64 S. Yunus).

Bila pada orang-orang yang demikian ini terjadi kejadian-kejadian aneh, apakah dalam bentuk mampu berkomunikasi dari jarak yang sangat jauh ataukah berbagai keanehan lainnya, maka yang demikian itu dinamakan Karamah sebagai anugerah, pertolongan dan perlindungan dari Allah kepadanya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam sebagai berikut :

“Takutlah kamu dari firasatnya orang Mu’min, karena dia melihat dengan cahaya Allah”. (HR. Abu Nu’aim Al Asfahani dalam kitab Al Hilyah jilid 6 halaman 118, juga diriwayatkan oleh At Thabrani dalam Al Mu’jamul Kabir jilid 8 halaman 102 hadits ke 7497 dari Abi Umamah radhiyallahu anhu. Al Imam Ibnu Hajar Al Haitsami dalam kitabnya Majma’uz Zawa’id jilid 10 halaman 268 menilai, bahwa hadits ini sanadnya hasan).

Juga telah diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Aalihi Wasallam sebagai berikut :

“Tidak henti-hentinya hambaKu mendekat kepadaKu dengan mengamalkan ibadah-ibadah sunnah, sehingga Aku mencintainya. Maka bila Aku telah mencintainya, maka Aku yang menjadi pendengarannya ketika dia mendengar. Dan Aku yang menjadi penglihatannya ketika dia melihat, dan Aku yang menjadi tangannya ketika dia menggunakan tangannya, dan Aku yang menjadi kakinya ketika dia berjalan, maka dengan Aku dia mendengar dan dengan Aku dia melihat, dengan Aku dia menggerakkan tangannya, dan dengan Aku dia berjalan. Dan bila dia meminta kepadaKu, maka Aku akan memberinya. Bila dia meminta perlindungan kepadaKu niscaya Akupun akan melindunginya. Dan Aku tidak pernah ragu dalam suatu perkara yang Aku lakukan, seperti keraguanKu ketika Aku mencabut nyawa hambaKu yang Mu’min ini. Dia tidak suka mati, dan Aku tidak suka menyakitinya, padahal mati itu adalah suatu perkara yang harus terjadi padanya”. (HR Bukhari dan lainnya).

Adapun berbagai keanehan pada orang yang menyimpang dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya, maka yang demikian itu adalah bantuan setan sebagaimana hal ini dinyatakan oleh Allah Ta’ala dalam firmanNya sebagai berikut :

“Dan setan itu hanyalah menakut-nakuti para pengikutnya. Oleh karena itu, janganlah kamu takut kepada para setan itu. Akan tetapi kalian hendaknya takut kepadaKu saja bila kamu memang orang-orang yang beriman”. S. Al Imran 175.

Juga Allah menegaskan betapa setan itu disamping menakut-nakut para pengikutnya, dia selalu membimbing para pengikutnya dengan berbagai ilmu yang diilhamkan kepadanya :

“Dan sesungguhnya setan itu mengilhamkan kepada para pengikutnya untuk mendebat kalian. Dan bila kalian menta’ati para pengikut setan itu, niscaya jadilah kalian sebagai orang-orang yang musyrik (yakni berbuat syirik)”. S. Al An’am 121.

Jadi menilai seseorang dalam hal munculnya berbagai keanehan pada dirinya itu, ialah dengan menilai sejauh mana penampilan dzhahir dia dalam menjalankan Al Qur’an dan As Sunnah. Maka dengan demikian, barulah diketahui bahwa dia sebagai wali Allah (yakni kekasih Allah) atau dia itu wali setan (yakni kekasih setan).

 

Al Ustadz Ja'far Umar Thalib

6 Responses to " Pengobatan Islami"
achmad ridwan
23 May 2009 at 10:01:53

Ass, sessungguhnya sakit adalah ujian yang diberikan oleh Allah SWT, agar kita selalu ingat kepadanya disaat suka atau pun duka

arif
26 Feb 2009 at 09:05:06

Aslm, Ustad smg sgra diberi kesembuhan oleh ALLAH SWT... Ana sgt merindukan tausiyah2 dr Ustad.

akbar
20 Feb 2009 at 12:58:17

fenomena pengobatan ponari menyiratkan bahwa umat islam di Indonesia masih banyak yang bodoh, na'udzubillah.

Irma sy
19 Feb 2009 at 11:46:44

alhmdulillah saya udah belajar tuh pengobatan dengan metode membaca Al Qur'an,alhmadulillah juga bermanfaat banget...

Fikri Abul Hassan
19 Feb 2009 at 10:45:11

Saudara Erzy semoga dirahmati oleh Allah, pertanyaan saudara sudah dijawab dalam artikel "Syirik Sumber Malapateka & Kedzaliman (2)" http://alghuroba.org/53 selamat membaca dan semoga bermanfaat!

ERZYANTO YUKAMA
19 Feb 2009 at 08:15:14

USTADZ mau nanya : di kantor ana banyak temen2 pake kalung dan gelang dgn berdalih u/kesehatan tapi hatinya percaya bhw Allah lah yg Maha Menyembuhkan.
mhon penjelasan.
syukron.


 

Leave a Reply

Nama*
Website
E-mail*
*

 

alghuroba crew © 2008 | +62 856 4310 2002 (no esemes) site admin | assyaikh@yahoo.com