:: Ini Zaman Jahiliyah?
Admin 18 Agustus 2008
Pengertian jahiliyah ialah keadaan bangsa arab yang bodoh tentang Allah dan Rasul-rasulNya dan juga bodoh mengenai ketentuan-ketentuan agama dimasa sebelum turunnya Islam. Dan kondisi akhlaq dimasa itu kerap berbangga-bangga diri dengan nasab, bersombong, bermegah-megahan dalam harta dan semisalnya (Nihayah Libnil Atsir 1/323). Kata jahiliyah dinisbatkan dengan kata al-jahl yakni ketiadaan ilmu atau pasif dari kemestian mengikuti ilmu. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah:
“Bahwa orang yang tidak mengerti akan kebenaran maka dia disebut jaahilun jahlan basiithan (orang bodoh namun mengerti kalau dia bodoh). Namun apabila seseorang meyakini sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu maka dia disebut jaahilun jahlan murakkaban (orang bodoh yang kebodohannya berlipat, yakni tidak mengerti kalau dia bodoh), sama seperti orang yang menyelisihi kebenaran dalam keadaan mengerti kebenaran tersebut atau tidak mengerti, maka dia juga disebut sebagai jaahil (orang yang bodoh)”.
Maka telah jelas diatas, bahwa manusia sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam mereka dalam masa jahiliyah yakni kosong dari ilmu. Segala sesuatu yang mereka perbuat dikala itu apakah dalam bentuk perkataan-perkataan ataupun perbuatan-perbuatan semata-mata dilakukan diatas kebodohan. Demikian juga dengan segala ajaran yang menyelisihi apa yang datang dari para Rasul dengannya; seperti yahudiyah dan nashraniyah pun termasuk jahiliyah. Dalam konteks ini para Ulama memberikan istilah jahiliyah ‘ammah (secara umum).
Adapun pasca diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam, maka jahiliyah bisa terjadi disatu negeri namun belum tentu terjadi di negeri yang lainnya; seperti kejahiliyahan yang terjadi pada negeri orang-orang kafir. Jahiliyah juga kadang terjadi pada diri seseorang, seperti orang yang belum masuk Islam maka dia termasuk kategori jahiliyah walaupun dia tinggal di negeri Islam. Sehingga setelah diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam tidak ada lagi zaman jahiliyah secara mutlak. Karena sesungguhnya akan senantiasa muncul dari ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam yang akan menampilkan kebenaran secara demonstratif sampai mendekati hari kiamat.
Maka jahiliyah dalam makna yang khusus terkadang kita dapati pada sebagian negara-negara muslimin dan banyak pula terjadi pada sebagian besar kaum muslimin. Sebagaimana hal ini telah di isyaratkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam:
“Ada empat perkara pada ummatku yang termasuk jahiliyah”. (HR. Muslim)
Juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam kepada shahabatnya Abu Dzar Al-Ghifari Radhiyallahu ‘anhu:
“Sesungguhnya pada dirimu masih terdapat mental-mental jahiliyah”. (HR. Bukhari & Muslim)
Berikut ringkasan penulis mengenai pembahasan diatas:
Kata jahiliyah itu dinisbatkan dengan kata al-jahl yakni ketiadaan ilmu. Dan jahiliyah dibagi menjadi dua klasifikasi:
Pertama, jahiliyah ‘ammah (secara umum) yakni terjadi sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam dan telah berakhir setelah diutusnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam.
Kedua, jahiliyah khashshah (secara khusus) yakni terjadi pada sebagian negara atau sebagian orang dan yang demikian akan senantiasa terus-menerus ada.
Maka perlu kita ingat dalam hal ini, bahwa banyak orang yang keliru persepsi dalam memahami kata jahiliyah, dimana mereka men-generalisir kata jahiliyah dengan mengatakan “jahiliyah di zaman ini” atau “jahiliyah di generasi ini” dan semisalnya. Padahal yang benar ialah “jahiliyah yang terjadi pada sebagian orang yang ada di zaman ini” atau “terjadi pada mayoritas orang yang ada di zaman ini”. Adapun generalisasi kata jahiliyah maka tidak benar dan tidak boleh menyatakan demikian, karena jahiliyah telah berakhir pasca diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam.
Kitab Tauhid Hal. 19
Syaikh Shalih Bin Fauzan Al-Fauzan
Alih Bahasa: Fikri Abul Hassan