:: Wali Allah & Ziarah Kubur
Admin 23 Mei 2008
Bukanlah Yang Dikatakan Wali Itu Dapat Bertindak Apa Saja Terhadap Diri Seseorang
Tanya:
Aku pernah mendengar dan menyaksikan sendiri dengan kedua mataku ini, bahwa ada yang mengatakan “Sesunggunya para wali itu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan untuk bertindak apa saja didunia dan terhadap diri seseorang. Dan mereka mengatakan bahwa para wali tersebut mempunyai empat puluh wujud; terkadang engkau melihat mereka dalam wujud manusia, terkadang juga engkau melihat mereka dalam wujud ular atau macan dan semisalnya. Mereka yang meyakini ini pergi ke kuburan para wali tersebut dan tidur disana hingga akhir malam, kemudian mereka berkata: “Wali-wali itu hadir dalam mimpiku, dan mereka berkata: “Pergilah, sesungguhnya engkau telah disembuhkan”. Apakah pernyataan mereka ini benar atau tidak?
Jawab:
Sesungguhnya para wali Allah itu tidaklah seperti yang disaksikan saudara penanya. Allah Ta’ala tidaklah menganugrahkan kepada mereka sebab-sebab yang “luar biasa” yang mana Allah Ta’ala memberikan sebab-sebab tersebut kepada selain manusia. Jadi mustahil jika para wali itu memiliki kemampuan yang luar biasa, dan mustahil bagi mereka untuk dapat menyerupai wujud ular, macan dan semisalnya dari wujud-wujud hewan. Kemampuan untuk melakukan perubahan wujud semisal ini hanya Allah berikan kepada makhluk-Nya dari kalangan Malaikat dan Jin; dan yang demikian itu khusus bagi mereka.
Adapun mengunjungi (ziarah) kuburan maka ini disyariatkan, yakni dalam rangka mendoakan ampunan dan rahmat bagi para penghuni kubur tersebut. Namun yang perlu kita ingat, bahwa tidak boleh berziarah kubur -apakah itu pergi ke kuburan wali-wali atau selainnya- dalam rangka mencari barakah, kemudian meminta dilepaskan dari malapetaka dan minta dipenuhi kebutuhannya dari penghuni kubur tersebut. Karena perbuatan yang demikian ini termasuk syirik besar (yakni tidak diampuni dosanya jika si pelaku mati dan tidak sempat bertaubat daripadanya, -pent). Sama halnya menyembelih kurban dengan niat yang ditujukan untuk selain Allah, atau untuk Allah tapi juga disertai niat untuk selain-Nya; maka perbuatan ini pun termasuk syirik besar. Alhasil cerita-cerita mereka adalah dusta dan menyelisihi nash syari’ah. Bahkan ini sebagai suatu amalan mungkar yang berasal dari keyakinan-keyakinan syirik.
Shalawat dan salam atas Nabi Muhammad, keluarganya serta para shahabatnya.
Fatawa Lajnah Da’immah (jilid 1/53)
Ketua : Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz Rahimahullah
Alih Bahasa : Fikri Abul Hassan